MBC INDONESIA
Jakarta, Indonesia – Sabtu, (18/4/2026). Konflik atau perang yang terjadi di kawasan Timur Tengah mulai memberikan dampak nyata terhadap perekonomian Indonesia, khususnya pada sektor harga kebutuhan pokok.
Situasi ini memberikan tekanan signifikan melalui kenaikan biaya logistik dan gangguan rantai pasok bahan baku global per April 2026.
Berikut adalah pantauan terkini pergerakan harga dan faktor yang memengaruhinya:
Komoditas yang Mengalami Kenaikan
Biaya energi dan logistik yang membengkak berdampak langsung pada sejumlah barang kebutuhan utama masyarakat:
– Minyak Goreng: Harga komoditas ini tergerus akibat gangguan pasokan bahan baku plastik kemasan (nafta) yang terdampak krisis petrokimia global.- Minyakita: Tercatat di angka Rp15.974 per liter (naik tipis).
– Minyak Goreng Curah: Mengalami persentase kenaikan tertinggi dibandingkan jenis lainnya di awal April ini.
– Produk Turunan Gandum: Harga mie instan dan roti mulai merangkak naik. Hal ini tak lepas dari ketergantungan Indonesia yang mengimpor sekitar 12 juta ton gandum per tahun, di mana biaya pengapalan (freight) saat ini melonjak tinggi.
– Kedelai: Harga bahan baku ini dilaporkan melonjak di beberapa wilayah seperti Jawa Barat. Kenaikan ini berisiko menaikkan harga jual tahu, tempe, hingga pakan ternak.
Rata-Rata Harga di Pasaran
Meskipun ada tekanan dari faktor eksternal, harga beberapa bahan pokok di tingkat konsumen masih relatif terjaga berupa intervensi pemerintah. Berikut kisaran rata-rata nasional per 17-18 April 2026:
– Beras Premium: ± Rp14.772 per kg
– Beras Medium: ± Rp12.903 per kg
– Gula Pasir: ± Rp17.304 per kg
– Bawang Merah: Rp49.800 (kualitas super) hingga Rp28.400 (kualitas biasa) per kg
– Bawang Putih: ± Rp41.297 per kg
Faktor Penyebab dan Upaya Penanganan
Ada beberapa faktor utama yang menjadi pemicu kenaikan harga saat ini:
– Biaya Logistik Melonjak: Struktur transportasi Indonesia yang masih bergantung pada jalan raya membuat harga pangan sangat sensitif terhadap BBM. Kenaikan biaya operasional truk yang mencapai 7–10% diprediksi akan menaikkan harga barang rata-rata sebesar 0,5–0,8%.
– Krisis Pupuk: Terhambatnya distribusi urea dan amonia dari Teluk Persia menyebabkan harga pupuk global naik hingga 40%. Hal ini berpotensi memicu inflasi harga pangan di musim panen mendatang jika tidak segera diantisipasi.
Untuk meredam gejolak harga, Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah melakukan intervensi. Salah satu langkahnya adalah mewajibkan para pemegang stok untuk segera mengeluarkan pasokan ke pasar guna mencegah spekulasi dan menjaga ketersediaan.
(Redaksi MBC Indonesia)







