MBC INDONESIA
Bondowoso, Jawa Timur – Jumat, (1/5/2026). Menyambut peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day, harapan para pekerja sederhana namun sangat mendasar. Selain menuntut kesejahteraan yang layak, mereka juga berharap tidak ada pembatasan usia yang terlalu ketat selama masih mampu berkarya.
Hal tersebut diungkapkan oleh Jenny, warga Sumbersari, Kecamatan Maesan, Bondowoso. Setiap hari, ia bersama ibunya harus menempuh perjalanan sekitar 25 kilometer untuk bekerja di salah satu perusahaan pengiriman paket di Kota Bondowoso, demi menghidupi keluarga dan anaknya yang masih bersekolah.
“Impian saya, lapangan pekerjaan selalu terbuka luas bagi kita. Jangan terlalu banyak persyaratan yang rumit karena justru bisa mematikan peluang dan menambah pengangguran. Intinya, jangan batasi usia selagi kita masih sehat dan mampu bekerja,” ujar Jenny kepada awak media, Jumat (1/5/2026).
Upah Disesuaikan Kebutuhan, Jangan Banding dengan Luar Negeri
Lebih lanjut, Jenny menyampaikan harapannya agar standar upah di Indonesia, khususnya di wilayah Bondowoso, bisa disesuaikan dengan kebutuhan hidup sehari-hari.
Menurutnya, buruh di sini tidak menuntut hal yang muluk-muluk atau membandingkan dengan negara maju seperti Australia yang jauh berbeda sistem ekonominya.
“Saya bersyukur kalau upah sudah dirasa layak. Tapi kalau dibandingkan dengan Australia, memang sangat jauh sekali perbedaannya. Kita tidak meminta sama seperti mereka, yang penting cukup untuk kebutuhan dapur dan hidup layak,” tambahnya.
May Day Bukan Seremonial, Harus Ada Perubahan
Di akhir kalimatnya, Jenny berpesan agar peringatan May Day tidak hanya dijadikan acara seremonial belaka. Ia berharap momentum ini benar-benar menjadi catatan penting bagi pemerintah dan pengusaha untuk terus mensejahterakan pekerja.
“Peringatan ini jangan cuma seremonial. Mari kita sejahterakan agar hidup lebih baik. Jadikan bulan Mei sebagai catatan perbaikan. Kami para buruh tidak butuh keributan atau anarki, kami hanya butuh kedamaian dan kenyamanan hidup di negeri sendiri,” pungkasnya.
(Iqbal TS | MBC Indonesia)









